Rumah orang lain dan kita sebagai tukang
Jika hidup kita dan orang lain bisa diibaratkan sebagai rumah, maka kita yang singgah dan menetap di hidup orang lain dalam kurun waktu tertentu bisa diibaratkan sebagai tukangnya. Setiap tukang punya bagian dan keahliannya masing-masing. Sepertinya jika dianalogikan, bagian yang menjadi keahlianku adalah bagian struktur, pondasi, dinding, perkusenan dan rangka atap. Aku selalu mengerjakannya semaksimal yang aku bisa, karena menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku jika pekerjaanku hasilnya baik.
Hal yang aku sadari sembari masih terus belajar mendewasa adalah, kadang untuk memelihara kewarasan kita, kita perlu tau porsi kita. Jika bagianku adalah struktur, pondasi, dinding, perkusenan dan rangka atap, aku tidak perlu memaksakan diri untuk mengerjakan bagian perpipaan dan jaringan listriknya, karena itu bukan keahlianku. Begitu hal yang bukan bagianmu itu dimulai, kemas peralatan dan pergi yang jauh dari rumah itu, kamu tidak punya keperluan apa-apa lagi di sana. Berlama-lama di sana hanya akan menghabiskan stok pisang goreng dan kopi si pemilik rumah hahaha.
Lalu bagaimana hubungan kita dengan si pemilik rumah? Jika kontrak kerjamu diselesaikan dengan cara yang baik, dan jika kau cukup beruntung, ketika kau bersisipan di tengah jalan dengan si pemilik rumah, mungkin dia akan menyapamu dan berterima kasih padamu atas jasamu. Atau kemungkinan lainnya, jika kontrak kerjamu diselesaikan dengan cara yang kurang baik, mungkin kau dan si pemilik rumah akan menjadi orang asing sekalipun saling menubruk bahu satu sama lain di jalan.
Bagiku, tidak penting bagaimana hubunganmu dengan si pemilik rumah setelahnya. Cukup kerjakan bagianmu dan pergi ketika bagianmu selesai. Setelah itu mungkin kau bisa pulang ke rumahmu dulu sambil menunggu panggilan menjadi tukang di rumah orang lain, atau mungkin, kau bisa melanjutkan membangun rumah milikmu sendiri saja. Terkadang kita lupa bahwa rumah kita sendiripun butuh dibangun lebih baik, dan kita tak perlu terus-terusan menjadi tukang di rumah orang lain (masih dalam analogi ya :)) Di sana, di rumahmu sendiri, kau bisa makan pisang goreng dan minum kopi atau kukubima susu sepuas yang kau mau hehehe.
Oh ya, tetapi hidup tidak hanya tentang hubungan tukang dan pemilik rumah, terkadang jika kau dapat harta karun, seseorang akan mengundangmu sebagai pemilik rumah kedua, sebagai pasangannya, pengisi rumahnya. Ntah kapan, hanya kau sendiri yang tau jawabannya.

Komentar
Posting Komentar